ARAK METANOL

Methanol


Baru-baru ini nama Bali tercoreng dengan merebaknya kasus keracunan arak campur methanol. Korban yang jatuh mencapai puluhan orang dan tersebar di beberapa kabupaten diantaranya Tabanan, Badung, Denpasar, Gianyar dan Bangli. Korban yang tewas juga tidak sedikit dan bahkan nyawa WNA juga melayang. Apakah sebenarnya methanol itu dan mengapa bisa cepat menimbulkan kematian??

Metanol atau dikenal dengan nama spritus merupakan jenis alkohol dengan struktur paling sederhana,

tetapi paling toksik pada manusia dibanding dengan jenis alkohol lainnya. Methanol secara luas digunakan pada industri, rumah tangga, pelarut cat, anti beku dan sebagai bahan bakar. Terjadinya keracunan pada orang biasanya karena sengaja diminum, atau produk yang mengandung methanol dan beberapa laporan terjadi keracunan melalui kulit maupun pernafasan.

Kejadian methanol diminum karena erat  hubungannya dengan kemiripannya dengan ethanol, baik dalam penampilan, bau, maupun harganya yang murah. Disamping itu orang awam tidak begitu mengetahui bahwa methanol lebih berbahaya daripada ethanol. Dosis lethal sekitar 30 ml, tetapi telah dilaporkan dosis lethal dapat mencapai 500 ml, hal tersebut bergantung pada individu.

Methanol diabsorpsi dan didistribusikan keseluruh tubuh seperti pada ethanol. Metabolisme metanol tidak bergantung pada konsentrasinya di dalam darah.

CH3OH alkohol dehydrogenase àCHCOHaldehyd dehydrogenaseàHCOOH

——-àCO2 + H2O

Dalam proses metabolisme, methanol teroksidasi menjadi formaldehyd yang sangat toksik yaitu 33X lebih toksik daripada methanol. Formaldehyd sebagaian akan bereaksi dengan protein tubuh dan lainnya dioksidasi lebih lanjut. Tidak semua methanol mengalami metabolisme, tetapi sejumlah besar methanol mungkin dikeluarkan tanpa terjadi perubahan melalui paru dan ginjal. Tetapi, metabolisme adalah merupakan reaksi yang sangat penting.

Seperti halnya ethanol, methanol didistribusikan keseluruh organ yang proporsinya seimbang dengan air pada cairan jaringan. Hal inilah yang menunjukkan bahwa organ mata mengalami gangguan yang sangat besar walupun methanol yang masuk kedalam tubuh relatif kecil.

Gejala diawali dengan menunjukkan tanda-tanda seperti intoksikasi ethanol, walaupun gejalanya biasanya lebih ringan. Hal tersebut karena daya larutnya yang rendah terhadap lemak. Gejala yang terlihat ialah euphoria dan lemah otot. Kemudian diikuti dengan gejala mual, muntah, sakit kepala, hilang ingatan, sakit perut yang sangat dan dapat disertai diaree, sakit punggung, kelesuan anggota gerak. Mata terlihat merah karena hiperemik.

Pada keracunan methanol yang berat, pernafasan dan denyut jantung tertekan. Terjadi gejala asidosis dengan nafas perlahan dan dalam. Penderita akan mengalami koma dan kematian terjadi dengan cepat. Pada saat menjelang ajalnya penderita menunjukkan gejala konvulsi dan opithotonus.

Terjadinya kerusakan bola mata sering terjadi pada keracunan methanol. Orang yang mengkonsumsi methanol sekitar 4 ml dapat menyebabkan kebutaan. Dilaporkan bahwa terjadi peristiwa kebutaan karena keracunan methanol sampai 6% pada tentara Amerika waktu perang dunia ke II. Kerusakan mata adalah suatu bentuk terjadinya kerusakan retina dan saraf optik yang mengalami degenerasi yang disebabkan oleh akumulai formaldehyd dan berkembang menjadi asidosis. Bila penderita dapat selamat, penderita akan mengalami buta total atau daya penglihatannya dapat terganggu selama berbulan-bulan.

Pengobatan toksisitas methanol

Bermacam-macam obat untuk toksisitas methanol telah digunakan, yang kebanyakan obat berfokus untuk mengobati gejala asidosis. Asidosis ini harus diobati terlebih dulu karena dapat mengancam jiwa penderita. Gejala kerusakan yang parah pada mata sangat bergantung pada kecepatan menetralkan gejala asidosis ini. Infus dengan sodium bikarbonat segera harus dilakukan sampai pH urine menjadi normal kambali.

Secara teoritis ethanol adalah merupakan antidotum spesifik terhadap toksisitas methanol, walaupun efektifitasnya masih banyak dipelajari. Ethanol diberikan secra oral atau melalui intra vena sesegera mungkin. Dosis pemberian ethanol dilakukan sampai mencapai kadar 0,1% dalam darah. Bila ethanol sudah cukup untuk mengurangi metabolisme methanol sehingga kadar metabolisme toksik methanol berkurang, maka secara keseluruhan dapat menurunkan daya toksisitas methanol. Pengobatan dengan ethanol ini harus dilakukan untuk selama satu minggu atau lebih sampai methanol dikeluarkan dari tubuh.

Pengobatan dengan hemodialisis atau peritoneal dialisis juga dapat digunakan untuk mengeliminasi methanol. Dialisis ini dilakukan bila kadar methanol dalam darah mencapai lebih dari 50mg%, serta terus dilakukan sampai kadarnya kurang dari 20mg%

About desu

InfoNet digunakan untuk mempublikasikan rangkaian informasi yang kiranya berguna bagi pengunjung situs ini... jadi silahkan komentar dan men
This entry was posted in kesehatan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s